Maha suci Engkau ya Allah.......yang telah ’menempa’ ku dengan ujian-ujian dan rasa sakit sehingga tempaan dan ujian itu semakin membuat aku tangguh,tunduk dan berserah kepadaMU......
Sungguh ya Allah...aku tidak memiliki kebisaan apapun untuk menghindar ataupun mengelak dari apapun yang telah Engkau gariskan dan Engkau ijinkan terjadi padaku,sebab semua kejadian adalah keputusanMU dan keputusanMU untuk diriku tak akan mungkin salah atau keliru,pasti tepat! Pasti baik untukku...
Engkau ingin agar jiwaku semakin indah dan bersinar...
Maka tak ada alasan bagiku untuk tidak bersyukur padaMU
Terima kasih ya Allah... atas cinta dan kasih sayangMU kepadaku....
Alhamdulillahi rabbil alamiin.....
Jumat, 28 Oktober 2011
Kamis, 27 Oktober 2011
Muhasabah......
•Pantaskah aku berbangga ketika aku, suamiku atau anak-anakku berhasil melakukan atau mencapai sesuatu?
padahal jelas-jelas semua itu adalah karyaNya?.....
•Patutkah aku mengeluh atau marah ketika sesuatu yang tidak sesuai dengan harapan dan keinginanku terjadi padaku?
Padahal DIAlah sebaik-baik pengatur,Maha Suci dan Maha bijaksana
•Layakkah aku menerima pujian? Sedangkan segala puji hanya milikMu ya Rabb......
Astagfirullahaladzim.....
Ternyata selama ini aku masih sering salah kaprah dan tidak tahu diri..
DisuruhNya bersyukur malah 'bangga'
Disuruhnya rela diatur malah ngotot ingin merubah ketetapan
DisuruhNya tawadhu malah sombong...
DisuruhNya taat malah membangkang!
Ampuni aku ya Allah....
Bantu aku untuk selalu menyadari siapakah aku...
padahal jelas-jelas semua itu adalah karyaNya?.....
•Patutkah aku mengeluh atau marah ketika sesuatu yang tidak sesuai dengan harapan dan keinginanku terjadi padaku?
Padahal DIAlah sebaik-baik pengatur,Maha Suci dan Maha bijaksana
•Layakkah aku menerima pujian? Sedangkan segala puji hanya milikMu ya Rabb......
Astagfirullahaladzim.....
Ternyata selama ini aku masih sering salah kaprah dan tidak tahu diri..
DisuruhNya bersyukur malah 'bangga'
Disuruhnya rela diatur malah ngotot ingin merubah ketetapan
DisuruhNya tawadhu malah sombong...
DisuruhNya taat malah membangkang!
Ampuni aku ya Allah....
Bantu aku untuk selalu menyadari siapakah aku...
Rabu, 26 Oktober 2011
HAJI...... Kembali Kepada Fitrah Manusia
Tepat pada tanggal 10 bulan November 2010, atas ijin Allah, Alhamdulillah saya diberi kesempatan untuk menunaikan rukun islam yang ke lima yaitu melaksanakan ibadah haji.
Sejujurnya keberangkatan haji ini diluar perkiraan saya karena sebelumnya ketika saya mendaftarkan haji (reguler) pada tahun 2009 saya mendapat informasi bahwa keberangatan haji saya diperkirakan pada tahun 2012. Baiklah... Saya akan sabar menanti :) Saya hanya meyakini bahwa Allah sudah mencatat niat saya.
Sampai pada suatu hari diawal tahun 2010 suami saya meminta agar saya mencari informasi mengenai haji plus, saya pikir buat apa?
Toh kami sudah mendaftar dan mendapatkan nomor porsi untuk haji reguler, saat itu suami saya hanya bilang yaaa....liat-liat aja, mudah-mudahan ada rejekinya.... Amiiin... :)
Dan pencarian informasi pun saya lakukan, saya datangi sejumlah travel biro penyelenggara haji, saya bandingkan kelebihan dan kekurangan masing-masing biro, sampai akhirnya saya putuskan untuk memilih satu travel biro yang sesuai dengan kemampuan saya.
Saya mendatangi Travel biro perjalanan haji tersebut, saya ungkapkan pada mereka bahwa saya sebenarnya sudah mendaftar untuk haji reguler dan sudah mendapat nomor porsi, jika bisa dan memungkinkan, saya berniat untuk merubah haji reguler ke haji plus dan pihak travel tersebut menjanjikan pada saya bisa mengurus kepindahan tersebut hingga tuntas dan Insha Allah saya bisa berangkat pada akhir tahun 2010!
Kemudian sayapun mendaftarkan nama saya dan suami saya di travel itu. Alhamdulillah..... What next? Ikhtiar....kemudian Tawakaltu alaAllah..... :)
Saya yakin Allah memang Maha Baik dan akan menolong siapapun yang memiliki niat baik maka dicukupilah semua kebutuhan hamba-hamba yang bergantung hanya padaNya.
Cukup lama saya menunggu untuk mendapatkan berita dan kepastian keberangkatan dari travel tersebut karena janji kepastian itu terus mundur karena keputusan dan jatah quota dari Departemen Agama memang belum ada, dari bulan Februari, Maret, April, hingga pada bulan Agustus barulah saya mendapat kepastian keberangkatan itu, Alhamdulillah... Saya termasuk kedalam quota untuk keberangkatan haji tahun 2010.
Semula saya sempat merasa was-was dan khawatir kalau saya tidak mendapat quota pada tahun ini, tapi kemudian cepat-cepat saya singkirkan perasaan itu, saya luruskan niat kembali, buat apa saya was -was atau khawatir ? Bukan kah Allah yang mengatur semuanya?
Bukankah saya tidak bisa menangguhkan atau menyegerakan apapun yang telah menjadi kehendak dan keputusan Allah?
Bukankah Allah yang Maha Mengetahui apa yang tepat dan terbaik buat saya?
Kalau tidak berangkat tahun ini tentu tidak jadi masalah, yang pasti kami sudah berikhtiar maksimal, Allah lah yang paling tahu kapan waktu yang paling tepat buat saya.
Akhirnya dengan keyakinan - keyakinan itupun saya merasa tentram dan tidak khawatir lagi.
Namun......Selain rasa syukur karena saya dan suami sudah mendapatkan jatah quota, ternyata ada lagi satu rasa yang hadir saat itu, yaitu.... rasa takut! Kenapa?
Bagi saya, menunaikan ibadah Haji bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan, ibadah haji bukanlah sekedar ibadah yang kita tunaikan karena kita merasa mampu secara finansial untuk menunaikan rukun islam yang kelima, kemudian selesai dan kita mendapat gelar haji! tidak, tidak sesederhana itu! dan bukan itu tujuannya.
Ibadah haji adalah ibadah yang memerlukan keMAMPUan dan kesiapan diri kita untuk menepati tujuh rukun haji yang sebenarnya adalah tujuh komitmen atau tujuh janji hati kita dengan Allah SWT yang harus kita tepati seumur hidup (Masha Allah....berat bukan?)
Tujuh rukun haji adalah tujuh janji kita kepada Sang Khalik yang tentunya ketujuh janji ini mengandung konsekwensi teramat besar yang harus kita pertanggung jawabkan didunia dan diakhirat.
Mari kita lihat dan kita renungkan, janji atau komitmen apakah yang kita ikrarkan dihadapan Tuhan kita, Allah SWT pada saat kita menunaikan ibadah haji.
1. IHROM
Ihrom ditandai atau disimulasikan dengan dikenakannya pakaian ihrom yang berwarna putih bersih tanpa jahitan (kecuali wanita) dikenakan oleh semua orang yang menunaikan ibadah haji.
Dari segala penjuru dunia, siapapun, dari negara manapun, miskin atau kaya, pejabat maupun orang biasa mengenakan pakaian yang sama tak beda, mengandung makna janji kita kepada Allah, bahwa : mulai detik ini aku tidak akan lagi membeda-bedakan dalam memandang manusia, karena dimata Allah semua manusia sama! maka tak layak jika aku merasa lebih mulia, lebih hebat atau merasa lebih tinggi derajatnya dibanding manusia lainnya! manusia yang paling mulia atau hebat adalah yang paling taqwa, yang taat menjalankan perintah dan menjauhi laranganNya.
2. THAWAF
Thawaf ditandai dengan berputarnya kita mengelilingi Ka'bah yang mengandung janji bahwa : mulai detik ini hatiku jiwaku akan selalu dekat dengan Allah dan akan selalu berada di 'orbit' Nya, selalu berada di 'koridor' Nya, menjalankan semua tugas sebagai hamba ( pengabdi) yang patuh pada segala perintah dan menjauhi laranganNya.
Mengakui KeMaha SucianNya, mensyukuri segala nikmat dan sabar dalam menghadapi ujianNya, mengakui KeEsaanNya, mengakui KebesaranNya, dan mengakui bahwa tiada sedikitpun daya serta kemampuan selain pertolongan Allah yang maha tinggi ketika mengatakan : Subhanallah...wAlhamdulillah.... wa Laillaha illa Allah AllahuAkbar wa Laahaula walaakuata illabilahil aliyil Adzim....
3. SA'I
Ditandai dengan berlari-lari kecil dari bukit Shafa menuju bukit Marwah, yang mengandung janji serta komitmen bahwa : mulai detik ini aku akan selalu sabar dan tidak berputus asa dalam ikhtiar menjalani hidup ini (seperti yang dilakukan Siti Hajar ketika ditinggal dipadang yang tandus, sendiri hanya bersama bayi Ismail, yang tetap sabar dan terus berikhtiar) dengan selalu meyakini adanya pertolongan Allah.
4. WUKUF
Dilakukan di Arafah, dan ini adalah satu-satunya rukun haji yang tidak bisa diwakilkan oleh siapapun, bahkan wukuf ini adalah persyaratan utama dalam berhaji "haji adalah Arafah" mengandung janji dan komitmen kepada Allah bahwa : mulai detik ini aku akan selalu merenung dan bertafakur, berfikir dan Iqra yang merupakan perintah pertama dan utama dari Allah Swt kepada manusia.
Dengan berfikir maka yang semula tidak tahu menjadi tahu, tahu menjadi yakin dan gelap menjadi terang...
Dengan wukuf ini pula aku berjanji akan selalu bermuhasabah dan introspeksi diri berupaya menjadi manusia yang lebih baik dari hari ke hari.
5. MABIT atau berkemah (bermalam di Mudzalifah)
Mengandung makna dan janji bahwa mulai detik ini aku akan selalu hidup dalam kesederhanaan dan tidak berlebih-lebihan.
Pada saat mabit kita tidak membawa peralatan apapun, hanya berbekal atau membawa yang kita butuhkan saja.
Komitmen untuk hidup dalam kewajaran dan kebersahajaaan, karena Allah pun tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.
6. LEMPAR JUMROH
Ditandai dengan melempar jamarat dengan batu yang mengisyaratkan bahwa jamarat ini adalah setan dan nafsu dalam diri kita, yang ingin kita usir dan kita hindari setiap saat.
Rukun haji ini adalah yang 'terberat' untuk dilakukan, dimana pada saat ini kita berjanji dan berkomitmen kepada Allah untuk tidak lagi mengikuti hasutan nafsu dan langkah-langkah setan didalam kehidupan kita, kita menyadari sepenuhnya bahwa hasutan setan akan terus ada selama manusia hidup didunia, dalam hadist pun dikatakan bahwa 'setan mengalir dalam darah manusia' hadist ini mengandung pemahaman bahwa setiap detik dalam kehidupan kita setan tidak akan pernah berhenti memprovokasi manusia untuk melanggar dan membangkang pada 'aturan main' Allah ( Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk )
Inilah juga sebabnya kenapa melempar jumrah ini dilakukan berulang-ulang hingga tiga kali, seolah Allah ingin memastikan apakah kita telah bersungguh-sungguh dan siap memerangi setan dan nafsu kita karena tidaklah mudah untuk bisa terbebas dan terlepas dari godaan dan hasutan setan ini, sehingga Allah ingin benar-benar memastikan kesungguhan kita untuk berjanji akan hal ini.
Karena sesungguhnya perang terbesar adalah perang melawan nafsu didalam diri kita sendiri.
7. TAHALUL
Ditandai dengan menggunting atau mencukur rambut yang mengandung janji dan komitmen dengan Allah bahwa : mulai detik ini aku akan membuang segala pikiran yang kotor atau buruk.
Berjanji untuk tidak berprasangka buruk terhadap Allah dan pada siapapun.
Dari ketujuh komitmen (rukun haji) ini setelah dipahami dan direnungkan semakin jelaslah kini, bahwa yang dikatakan haji yang MABRUR adalah mereka yang mampu menjaga dan memenuhi ketujuh janjinya kepada Allah setelah dia selesai menunaikan ibadah haji disepanjang hidupnya.
Dijalankannya setiap saat semua arti dan makna dari ketujuh rukun haji ini, sehingga semakin terasa kebenaran hadist yang mengatakan bahwa ' tak ada ganjaran yang lebih pantas bagi haji mabrur kecuali Surga'
Subhanallah....
Patutkah kita 'bersenda gurau' dalam ibadah ini? Jelaslah butuh persiapan yang begitu 'besar' dari jiwa kita.
Apa akibatnya jika kita tidak bersungguh-sungguh dalam menjalankan komitmen dengan Allah ini?
Itulah sesungguhnya ketakutan saya saat itu....
Tapi kemudian pada akhirnya saya dan suami saya kembali meyakinkan diri kami masing-masing bahwa tidak ada ibadah yang menjadikan kita khawatir apalagi stress! Tapi sebaliknya ibadah ini harus membuat kita tentram dan bahagia, karena kita akan menjalankan aturan/perintahNya
Kita memang tidak pernah memiliki daya dan kemampuan apa-apa selain pertolongan Allah...
Kami telah dimudahkan untuk melalui proses ini yakinlah bahwa Allah telah mengijinkan kami untuk menunaikannya, selanjutnya kita tindak lanjuti panggilan dan ijin Allah ini dengan sungguh-sungguh dan mari kita berupaya semaksimal mungkin untuk menjalankan Komitmen ini.
Aku datang ya Allah.... Aku penuhi panggilanMu.... Terimalah aku...Ampunilah dosa-dosaku....
Sejujurnya keberangkatan haji ini diluar perkiraan saya karena sebelumnya ketika saya mendaftarkan haji (reguler) pada tahun 2009 saya mendapat informasi bahwa keberangatan haji saya diperkirakan pada tahun 2012. Baiklah... Saya akan sabar menanti :) Saya hanya meyakini bahwa Allah sudah mencatat niat saya.
Sampai pada suatu hari diawal tahun 2010 suami saya meminta agar saya mencari informasi mengenai haji plus, saya pikir buat apa?
Toh kami sudah mendaftar dan mendapatkan nomor porsi untuk haji reguler, saat itu suami saya hanya bilang yaaa....liat-liat aja, mudah-mudahan ada rejekinya.... Amiiin... :)
Dan pencarian informasi pun saya lakukan, saya datangi sejumlah travel biro penyelenggara haji, saya bandingkan kelebihan dan kekurangan masing-masing biro, sampai akhirnya saya putuskan untuk memilih satu travel biro yang sesuai dengan kemampuan saya.
Saya mendatangi Travel biro perjalanan haji tersebut, saya ungkapkan pada mereka bahwa saya sebenarnya sudah mendaftar untuk haji reguler dan sudah mendapat nomor porsi, jika bisa dan memungkinkan, saya berniat untuk merubah haji reguler ke haji plus dan pihak travel tersebut menjanjikan pada saya bisa mengurus kepindahan tersebut hingga tuntas dan Insha Allah saya bisa berangkat pada akhir tahun 2010!
Kemudian sayapun mendaftarkan nama saya dan suami saya di travel itu. Alhamdulillah..... What next? Ikhtiar....kemudian Tawakaltu alaAllah..... :)
Saya yakin Allah memang Maha Baik dan akan menolong siapapun yang memiliki niat baik maka dicukupilah semua kebutuhan hamba-hamba yang bergantung hanya padaNya.
Cukup lama saya menunggu untuk mendapatkan berita dan kepastian keberangkatan dari travel tersebut karena janji kepastian itu terus mundur karena keputusan dan jatah quota dari Departemen Agama memang belum ada, dari bulan Februari, Maret, April, hingga pada bulan Agustus barulah saya mendapat kepastian keberangkatan itu, Alhamdulillah... Saya termasuk kedalam quota untuk keberangkatan haji tahun 2010.
Semula saya sempat merasa was-was dan khawatir kalau saya tidak mendapat quota pada tahun ini, tapi kemudian cepat-cepat saya singkirkan perasaan itu, saya luruskan niat kembali, buat apa saya was -was atau khawatir ? Bukan kah Allah yang mengatur semuanya?
Bukankah saya tidak bisa menangguhkan atau menyegerakan apapun yang telah menjadi kehendak dan keputusan Allah?
Bukankah Allah yang Maha Mengetahui apa yang tepat dan terbaik buat saya?
Kalau tidak berangkat tahun ini tentu tidak jadi masalah, yang pasti kami sudah berikhtiar maksimal, Allah lah yang paling tahu kapan waktu yang paling tepat buat saya.
Akhirnya dengan keyakinan - keyakinan itupun saya merasa tentram dan tidak khawatir lagi.
Namun......Selain rasa syukur karena saya dan suami sudah mendapatkan jatah quota, ternyata ada lagi satu rasa yang hadir saat itu, yaitu.... rasa takut! Kenapa?
Bagi saya, menunaikan ibadah Haji bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan, ibadah haji bukanlah sekedar ibadah yang kita tunaikan karena kita merasa mampu secara finansial untuk menunaikan rukun islam yang kelima, kemudian selesai dan kita mendapat gelar haji! tidak, tidak sesederhana itu! dan bukan itu tujuannya.
Ibadah haji adalah ibadah yang memerlukan keMAMPUan dan kesiapan diri kita untuk menepati tujuh rukun haji yang sebenarnya adalah tujuh komitmen atau tujuh janji hati kita dengan Allah SWT yang harus kita tepati seumur hidup (Masha Allah....berat bukan?)
Tujuh rukun haji adalah tujuh janji kita kepada Sang Khalik yang tentunya ketujuh janji ini mengandung konsekwensi teramat besar yang harus kita pertanggung jawabkan didunia dan diakhirat.
Mari kita lihat dan kita renungkan, janji atau komitmen apakah yang kita ikrarkan dihadapan Tuhan kita, Allah SWT pada saat kita menunaikan ibadah haji.
1. IHROM
Ihrom ditandai atau disimulasikan dengan dikenakannya pakaian ihrom yang berwarna putih bersih tanpa jahitan (kecuali wanita) dikenakan oleh semua orang yang menunaikan ibadah haji.
Dari segala penjuru dunia, siapapun, dari negara manapun, miskin atau kaya, pejabat maupun orang biasa mengenakan pakaian yang sama tak beda, mengandung makna janji kita kepada Allah, bahwa : mulai detik ini aku tidak akan lagi membeda-bedakan dalam memandang manusia, karena dimata Allah semua manusia sama! maka tak layak jika aku merasa lebih mulia, lebih hebat atau merasa lebih tinggi derajatnya dibanding manusia lainnya! manusia yang paling mulia atau hebat adalah yang paling taqwa, yang taat menjalankan perintah dan menjauhi laranganNya.
2. THAWAF
Thawaf ditandai dengan berputarnya kita mengelilingi Ka'bah yang mengandung janji bahwa : mulai detik ini hatiku jiwaku akan selalu dekat dengan Allah dan akan selalu berada di 'orbit' Nya, selalu berada di 'koridor' Nya, menjalankan semua tugas sebagai hamba ( pengabdi) yang patuh pada segala perintah dan menjauhi laranganNya.
Mengakui KeMaha SucianNya, mensyukuri segala nikmat dan sabar dalam menghadapi ujianNya, mengakui KeEsaanNya, mengakui KebesaranNya, dan mengakui bahwa tiada sedikitpun daya serta kemampuan selain pertolongan Allah yang maha tinggi ketika mengatakan : Subhanallah...wAlhamdulillah.... wa Laillaha illa Allah AllahuAkbar wa Laahaula walaakuata illabilahil aliyil Adzim....
3. SA'I
Ditandai dengan berlari-lari kecil dari bukit Shafa menuju bukit Marwah, yang mengandung janji serta komitmen bahwa : mulai detik ini aku akan selalu sabar dan tidak berputus asa dalam ikhtiar menjalani hidup ini (seperti yang dilakukan Siti Hajar ketika ditinggal dipadang yang tandus, sendiri hanya bersama bayi Ismail, yang tetap sabar dan terus berikhtiar) dengan selalu meyakini adanya pertolongan Allah.
4. WUKUF
Dilakukan di Arafah, dan ini adalah satu-satunya rukun haji yang tidak bisa diwakilkan oleh siapapun, bahkan wukuf ini adalah persyaratan utama dalam berhaji "haji adalah Arafah" mengandung janji dan komitmen kepada Allah bahwa : mulai detik ini aku akan selalu merenung dan bertafakur, berfikir dan Iqra yang merupakan perintah pertama dan utama dari Allah Swt kepada manusia.
Dengan berfikir maka yang semula tidak tahu menjadi tahu, tahu menjadi yakin dan gelap menjadi terang...
Dengan wukuf ini pula aku berjanji akan selalu bermuhasabah dan introspeksi diri berupaya menjadi manusia yang lebih baik dari hari ke hari.
5. MABIT atau berkemah (bermalam di Mudzalifah)
Mengandung makna dan janji bahwa mulai detik ini aku akan selalu hidup dalam kesederhanaan dan tidak berlebih-lebihan.
Pada saat mabit kita tidak membawa peralatan apapun, hanya berbekal atau membawa yang kita butuhkan saja.
Komitmen untuk hidup dalam kewajaran dan kebersahajaaan, karena Allah pun tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.
6. LEMPAR JUMROH
Ditandai dengan melempar jamarat dengan batu yang mengisyaratkan bahwa jamarat ini adalah setan dan nafsu dalam diri kita, yang ingin kita usir dan kita hindari setiap saat.
Rukun haji ini adalah yang 'terberat' untuk dilakukan, dimana pada saat ini kita berjanji dan berkomitmen kepada Allah untuk tidak lagi mengikuti hasutan nafsu dan langkah-langkah setan didalam kehidupan kita, kita menyadari sepenuhnya bahwa hasutan setan akan terus ada selama manusia hidup didunia, dalam hadist pun dikatakan bahwa 'setan mengalir dalam darah manusia' hadist ini mengandung pemahaman bahwa setiap detik dalam kehidupan kita setan tidak akan pernah berhenti memprovokasi manusia untuk melanggar dan membangkang pada 'aturan main' Allah ( Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk )
Inilah juga sebabnya kenapa melempar jumrah ini dilakukan berulang-ulang hingga tiga kali, seolah Allah ingin memastikan apakah kita telah bersungguh-sungguh dan siap memerangi setan dan nafsu kita karena tidaklah mudah untuk bisa terbebas dan terlepas dari godaan dan hasutan setan ini, sehingga Allah ingin benar-benar memastikan kesungguhan kita untuk berjanji akan hal ini.
Karena sesungguhnya perang terbesar adalah perang melawan nafsu didalam diri kita sendiri.
7. TAHALUL
Ditandai dengan menggunting atau mencukur rambut yang mengandung janji dan komitmen dengan Allah bahwa : mulai detik ini aku akan membuang segala pikiran yang kotor atau buruk.
Berjanji untuk tidak berprasangka buruk terhadap Allah dan pada siapapun.
Dari ketujuh komitmen (rukun haji) ini setelah dipahami dan direnungkan semakin jelaslah kini, bahwa yang dikatakan haji yang MABRUR adalah mereka yang mampu menjaga dan memenuhi ketujuh janjinya kepada Allah setelah dia selesai menunaikan ibadah haji disepanjang hidupnya.
Dijalankannya setiap saat semua arti dan makna dari ketujuh rukun haji ini, sehingga semakin terasa kebenaran hadist yang mengatakan bahwa ' tak ada ganjaran yang lebih pantas bagi haji mabrur kecuali Surga'
Subhanallah....
Patutkah kita 'bersenda gurau' dalam ibadah ini? Jelaslah butuh persiapan yang begitu 'besar' dari jiwa kita.
Apa akibatnya jika kita tidak bersungguh-sungguh dalam menjalankan komitmen dengan Allah ini?
Itulah sesungguhnya ketakutan saya saat itu....
Tapi kemudian pada akhirnya saya dan suami saya kembali meyakinkan diri kami masing-masing bahwa tidak ada ibadah yang menjadikan kita khawatir apalagi stress! Tapi sebaliknya ibadah ini harus membuat kita tentram dan bahagia, karena kita akan menjalankan aturan/perintahNya
Kita memang tidak pernah memiliki daya dan kemampuan apa-apa selain pertolongan Allah...
Kami telah dimudahkan untuk melalui proses ini yakinlah bahwa Allah telah mengijinkan kami untuk menunaikannya, selanjutnya kita tindak lanjuti panggilan dan ijin Allah ini dengan sungguh-sungguh dan mari kita berupaya semaksimal mungkin untuk menjalankan Komitmen ini.
Aku datang ya Allah.... Aku penuhi panggilanMu.... Terimalah aku...Ampunilah dosa-dosaku....
Kamis, 09 Juni 2011
The Road Not Taken.....
TWO roads diverged in a yellow wood
And sorry I could not travel both
And be one traveler,long I stood
And looked down one as far as I could
To where it bent in the undergrowth
Than took the other,as just as fair
And having perhaps the better claim
Because it was grassy and wanted wear
Though as for that, the passing there
Had worn them really about the same
And both that morning equally lay
In leaves no step had trodden back
Oh,I kept the first for another day!
Yet knowing how way leads on to way
I doubted if I should ever come back
I shall be telling this with sigh
Somewhere ages and ages hence
Two roads diverged in a wood, and I took the one less traveled by
And that has made all the difference
Senin, 06 Juni 2011
Sebuah Renungan.....
Allah menginginkan pengabdianku kepadaNYA total, murni 100%.
Ujian-ujian Allah (jika aku menyadari dan memahaminya) sebenarnya adalah 'sarana' untuk mendeteksi dan mengecek sudah semurni apa kadar pengabdianku kepadaNYA.
Sudah semurni emas 24 karat-kah atau masih emas campuran?
Jika aku masih mengeluh atau protes ketika ujian datang padaku (padahal sebenarnya itu ketetapan terbaik dari Allah buat aku) sudah murni-kah kadar pengabdianku kepadaNYA?
sudah berserah diri secara total kah aku KepadaNYA?
sudahkah aku menghanyutkan diri pada kehendakNYA? atau malah pada kehendak ego-ku?
Padahal setiap hari dalam shalatku aku berikrar :
"....inna shalati wa nusuki wa mahyaya wa mamati lilahi rabbil alamiin...."
(sesungguhnya shalatku,ibadahku,hidup dan matiku hanya untuk Allah)
Tapi kenapa sampai detik hari ini aku masih sering menolak ketetapan-ketetapanNYA dan mengabaikan perintah-perintahNYA dengan beribu alasan dan pembenaran yang seolah masuk akal ?
Ujian-ujian Allah (jika aku menyadari dan memahaminya) sebenarnya adalah 'sarana' untuk mendeteksi dan mengecek sudah semurni apa kadar pengabdianku kepadaNYA.
Sudah semurni emas 24 karat-kah atau masih emas campuran?
Jika aku masih mengeluh atau protes ketika ujian datang padaku (padahal sebenarnya itu ketetapan terbaik dari Allah buat aku) sudah murni-kah kadar pengabdianku kepadaNYA?
sudah berserah diri secara total kah aku KepadaNYA?
sudahkah aku menghanyutkan diri pada kehendakNYA? atau malah pada kehendak ego-ku?
Padahal setiap hari dalam shalatku aku berikrar :
"....inna shalati wa nusuki wa mahyaya wa mamati lilahi rabbil alamiin...."
(sesungguhnya shalatku,ibadahku,hidup dan matiku hanya untuk Allah)
Tapi kenapa sampai detik hari ini aku masih sering menolak ketetapan-ketetapanNYA dan mengabaikan perintah-perintahNYA dengan beribu alasan dan pembenaran yang seolah masuk akal ?
Astagfirullah..... lead me ya Allah......
Ninik Wida
Sabtu, 09 April 2011
SAHABAT JIWA
Sekian lama...sepanjang umurku tanpa lelah aku mencarimu, dalam pencarian itu aku terus berupaya menemukanmu.
Dan kini....telah aku temukan engkau...sahabat jiwaku...
Dan kini....telah aku temukan engkau...sahabat jiwaku...
Ketika aku digunjingkan, difitnah dan disakiti...... orang-orang diluar sana mengatakan : ' kasian...' dan terkadang malah ikut-ikutan menggunjingkan, menjauhi, bahkan semakin menenggelamkan aku dalam keterpurukan tanpa mencari tahu kebenaran....
Namun engkau selalu datang dengan senyummu dan mengatakan :
' Bersyukurlah...karena pahala orang-orang yang menyakitimu akan Allah berikan padamu...'
Akhirnya jiwaku menjadi tentram, tak ingin mendendam dan bahkan mampu memaafkan....
Ketika aku mengalami musibah dan kegagalan, orang-orang diluar sana mengatakan : ' Mungkin kamu kurang amal!' bahkan ikut menertawakan....
Namun engkau selalu datang dengan kelembutan dan mengatakan:
Ketika aku mengalami musibah dan kegagalan, orang-orang diluar sana mengatakan : ' Mungkin kamu kurang amal!' bahkan ikut menertawakan....
Namun engkau selalu datang dengan kelembutan dan mengatakan:
' Berbahagialah....karena musibah adalah tanda cinta Allah kepadamu, temukan hikmah dibalik semua kejadian ini.....'
Akhirnya akupun mampu berserah dan bisa merasakan bahwa musibah adalah karunia... dan dengan musibah itu aku semakin berupaya untuk semakin taat kepadaNYA sehingga aku tidak berupaya merubah kehendakNYA menjadi kehendak egoku..
Ketika aku jatuh sakit, orang-orang diluar sana mengatakan :
Ketika aku jatuh sakit, orang-orang diluar sana mengatakan :
' Kamu tidak menjaga kesehatan!, kamu jadi menyusahkan banyak orang!'
Namun engkau datang dan mengatakan:
Namun engkau datang dan mengatakan:
"Semoga Allah memberikan hikmah dalam sakitmu, menghapuskan dan mengugurkan dosa-dosamu'....
Akhirnya akupun ikhlas, bersabar dalam ikhtiar dan tidak berkeluh kesah karena engkau semakin membuatku merasakan 'kehadiran' dan kasih sayangNYA kepadaku
Ketika teman-teman diluar sana meragukan dan mempertanyakan perubahanku bahkan memandang sebelah mata kepadaku...
Ketika teman-teman diluar sana meragukan dan mempertanyakan perubahanku bahkan memandang sebelah mata kepadaku...
Engkau adalah satu-satunya orang yang paling bahagia, mendukung dan menghargai proses perubahan dan hijrahku seperti besarnya rasa bahagia, bangga dan penghargaanku memiliki sahabat sepertimu....
Ketika aku berbicara, mengatakan sesuatu, memberi masukkan kepadamu, engkau selalu mendengarkan, menyimak dengan penuh antusias pembicaraanku, padahal mungkin pengetahuan dan pemahamanmu lebih banyak dan lebih baik dariku, tapi tak pernah sekalipun engkau memalingkan wajahmu dariku....bahkan ketika aku mengecewakanmu.....kau tetap tersenyum dan memahami aku...
Ketika aku berbicara, mengatakan sesuatu, memberi masukkan kepadamu, engkau selalu mendengarkan, menyimak dengan penuh antusias pembicaraanku, padahal mungkin pengetahuan dan pemahamanmu lebih banyak dan lebih baik dariku, tapi tak pernah sekalipun engkau memalingkan wajahmu dariku....bahkan ketika aku mengecewakanmu.....kau tetap tersenyum dan memahami aku...
Sahabat Jiwaku.....
Terima kasih karena selalu ada untukku...
Terima kasih karena telah membantuku untuk selalu mencintai Allah dan meneladani RasulNya...
Terima kasih karena telah membuat aku selalu SADAR
Terima kasih untuk selalu mengingatkan bahwa tak ada satupun ketetapanNYA yang buruk buat aku
Terima kasih untuk selalu membuat aku semakin memahami 'pengembaraan' ini
Terima kasih untuk selalu mengingatkanku bahwa 'kesenangan' itu bukan di ’perjalanan' tapi di tempat 'tujuan'!
Sahabat Jiwaku....
Semoga Allah selalu mencintai dan memuliakanmu
Aku bahagia dan bersyukur memiliki sahabat sepertimu...
Semoga akupun akan selalu menjadi sahabat bagi jiwamu....
Terima kasih karena selalu ada untukku...
Terima kasih karena telah membantuku untuk selalu mencintai Allah dan meneladani RasulNya...
Terima kasih karena telah membuat aku selalu SADAR
Terima kasih untuk selalu mengingatkan bahwa tak ada satupun ketetapanNYA yang buruk buat aku
Terima kasih untuk selalu membuat aku semakin memahami 'pengembaraan' ini
Terima kasih untuk selalu mengingatkanku bahwa 'kesenangan' itu bukan di ’perjalanan' tapi di tempat 'tujuan'!
Sahabat Jiwaku....
Semoga Allah selalu mencintai dan memuliakanmu
Aku bahagia dan bersyukur memiliki sahabat sepertimu...
Semoga akupun akan selalu menjadi sahabat bagi jiwamu....
Ya Allah...terima kasih karena ENGKAU telah mempertemukan aku dengan sahabat jiwaku...
Ya Allah....jadikanlah Sahabat Jiwaku ini sebagai penghuni surgaMU....
*) Sahabat Jiwa adalah dia yang selalu mengajakku untuk mencintai Allah dan Rasulullah,mentaati Al Quran dan menuntunku agar senantiasa DBAS
This Notes dedicated to all of my Sahabat Jiwa @ Forum Tafakur Mutiara Tauhid
This Notes dedicated to all of my Sahabat Jiwa @ Forum Tafakur Mutiara Tauhid
Bandung 30 Januari 2010
Ninik Wida
Ninik Wida
Sabtu, 26 Maret 2011
Musibah.... Cara Allah Menyatakan CintaNya...
BismillahiRahmaniRahim....
Kita tentu sering kali mendengar dan melihat musibah yang dialami oleh seseorang, entah itu teman, tetangga, saudara bahkan musibah itu mungkin dialami oleh kita sendiri...
Banyak diantara kita (termasuk saya) merasa sedih, cemas, takut dan khawatir ketika musibah itu terjadi.
Tak bisa dipungkiri bahwa ketika musibah terjadi tentulah hati kita merasa tidak nyaman, tapi kalau kita selami lebih dalam lagi PASTI akan ada hikmah dan kebaikan yang ingin Allah berikan pada kita...
Dalam setiap fenomena atau kejadian selalu memiliki dua sisi yang berbeda yaitu madharat dan manfaat, demikian juga pada musibah.
Kalau kita ilustrasikan, Bertemu musibah itu ibarat ketemu 'sarang lebah'!
Kita bisa cuma mendapat sengatannya (babak belur alias bengepnya aja) atau bisa juga kita mendapat madunya.
Nah, supaya kita tidak mendapat 'sengatannya' tentu diperlukan kesadaran-kesadaran dalam menghadapi musibah.
Pertama, kita harus menyadari bahwa ada 'campur tangan' Allah dalam kehidupan setiap manusia. Setuju kan?
Kedua, kita harus menyadari bahwa manusia punya keinginan, namun Allah juga punya 'keinginan' dan yang terjadi PASTI keinginan Allah!
Ketiga, kita harus menyadari bahwa jika musibah datang menghampiri tidak ada seorangpun yang dapat menolaknya.
Keempat, sadari bahwa kita tidak bisa menghindar dari 'jatah musibah' yang sudah ditentukan Allah untuk kita.
Hal ini sangat selaras dengan janji atau firman Allah :
' Tidak akan menimpa sesuatu apapun kecuali apa-apa yang telah Aku tetapkan untukmu ', (QS. At Taubah [9]: 51) dan ' Tidak ada yang mampu untuk menangguhkan ketetapan-Ku', (QS. Nuh [71]: 4)
Allah juga berfirman bahwa kejadian buruk yang menimpa kamu tidak selalu berarti jelek, sebaliknya kejadian menyenangkan tidak pula selalu berarti indah atau baik, (QS. Al Baqarah [2]: 216)
Dengan kesadaran-kesadaran tersebut sudah selayaknya kita selalu berprasangka baik dengan musibah yang menimpa pada diri kita. Ingatlah kembali bahwa tidak semua kenikmatan itu kasat mata, banyak keindahan yang 'dilipat' diantara taring-taring bencana.
Bahkan Rasulullah SAW bersabda :
' Janganlah kamu mati melainkan berbaik sangka terhadap Allah 'Azza wa Jalla"
Jadi pada saat musibah terjadi minimal berprasangka baik dulu deh sama Allah.....
Tanamkan dalam hati bahwa 'dari zat yang Maha Suci dan Bijaksana tidak mungkin memberikan sesuatu yang buruk apalagi salah untukku!'
Tanamkan dalam hati bahwa 'dari zat yang Maha Suci dan Bijaksana tidak mungkin memberikan sesuatu yang buruk apalagi salah untukku!'
Allah Swt bukan hendak menyiksa aku melainkan hendak memberikan aku hikmah dan pelajaran!
Langkah selanjutnya carilah solusinya.... Berikhtiarlah dengan maksimal!
Ada satu hal penting yang harus kita sadari bahwa Allah tidak menganiaya manusia walau sedikitpun', (QS Fushilat [41]: 46),
justru sebaliknya Allah sangat mencintai manusia bahkan Allah menginginkan semua manusia masuk surga!
Tentu dengan demikian ketika Allah memberi saya musibah, sebenarnya Allah ingin memberi saya HIKMAH! Bahkan SurgaNya!
Rasulullah SAW juga bersabda bahwa : 'Sesungguhnya Allah SWT tidaklah menetapkan suatu keputusan, kecuali akan berakibat baik kepadanya'.
Jika kita renungkan lagi bukankah musibah merupakan bagian dari episode kehidupan?
Allah berfirman : 'Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan', (QS. Al-Anbiya [21]:35)
Dunia ini fana alias berubah-ubah, segala sesuatunya silih berganti, ada siang ada malam, ada tangis ada tawa, ada kesengsaraan ada juga kebahagiaan.
Bila tidak ada siang mungkinkah ada malam?
Jika tidak ada kesengsaraan apakah mungkin ada kebahagiaan?
Bila awan tidak 'menangis', manalah mungkin taman akan tersenyum? he... Bener kan?
Teman-teman Setuju nggak bahwa kenyamanan yang terus menerus sering kali membuat kita terlena, lupa bahwa kehidupan yang sebenarnya bukanlah disini (dunia) tapi di akhirat?
Teman-teman setuju nggak bahwa kenyamanan yang terus menerus cenderung akan melalaikan kita mengasah atau mengolah kalbu?
Kalau temen-temen setuju berarti sadarilah bahwa musibah adalah cara Allah 'menyatakan cintaNya kepada manusia'.
So, kenapa harus bersedih bila dicintai-Nya?!
Rasulullah SAW bersabda : ' Apabila Allah menghendaki kebaikan bagi hambaNya, maka didahulukan baginya hukuman didunia (berupa musibah agar terhapus dosa-dosanya); dan apabila DIA menghendaki keburukan pada hambaNya, maka DIA akan menahan darinya (membiarkan) dengan dosa-dosanya sehingga dosa-dosa tersebut dibalas pada hari kiamat '
Coba teman-teman renungkan, setiap pelanggaran atau dosa itu harus dihukum kan?
Nah kalo gitu, misal.... kita disuruh milih nih, hukuman atas pelanggaran itu mau ditunaikan dimana? sekarang didunia (melalui musibah) atau nanti diakhirat?
Mana yang mau sahabat taat pilih? Menurut Alquran akhirat itu kekal loh.... :(
Mari kita tafakuri lagi, siapakah manusia yang paling dicintai Allah?
Jawabannya adalah.... Para nabi!
Siapakah manusia yang paling berat musibah dan ujiannya?
Jawabannya adalah... Para nabi!
Ya! manusia yang paling berat ujiannya adalah para nabi, kemudian orang-orang saleh yang meneladaninya.
Seorang akan diuji menurut kekuatan imannya. Apabila imannya kuat maka makin berat ujiannya, apabila imannya kurang kuat maka dia diuji menurut kadar kemampuannya. Dia akan diuji terus sehingga ia berjalan dimuka bumi dalam keadaan bersih (tidak berdosa) Subhanallah...
Jadi bener yaaa.... Kalo kita renungan lagi orang yang tidak rela dengan musibah yang menimpanya berati dia menolak 'jadian' dengan Allah!
Jadi sebenarnya kita ngga perlu alergi sama musibah, karena musibah itu adalah sesuatu yang selalu dapat diatasi, kan Allah janji bahwa : 'Aku tidak akan membebani manusia diluar batas kemampuannya'.(QS. Al Baqarah [2]: 286)
Apalagi kita orang-orang mukmin itu dibekali Allah dengan senjata canggih yaitu DOA!
maka ketika kita menerima musibah berdoalah : ya Allah, kuatkan punggungku dalam menerima musibah dariMu!
Kalau kita mengakui sepenuh hati bahwa Allah adalah satu-satuanya Tuhan kita, maka kita 'harus rela diatur' olehNya
Tidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah (QS. At Tagabun [64]: 11) sekuat apapun kita menghindarinya, jika Allah berkehendak maka itu pasti terjadi!
Karenanya terimalah......
Bahkan dalam Hadist Qudsi Allah SWT berfirman :
' Siapa saja yang tidak rela terhadap ketetapan-Ku dan tidak berlaku sabar terhadap cobaan-Ku dan tidak bersyukur terhadap nikmat-nikmat-Ku maka carilah olehmu Tuhan selain Aku!!'
Astagfirullah..... Betapa kerasnya Allah mengingatkan kita.
Kalaulah setiap 'polesan' itu selalu dianggap penyiksaan, lalu bagaimana caranya membuat hati manusia agar bersinar??
Kenapa kita tidak berserah diri saja pada Allah?....
Dengan demikian Kesimpulan yang bisa kita ambil adalah bahwa musibah di dunia ini memang pasti terjadi dan beserah diri adalah solusinya.
Kalau kita menolak musibah maka kita menolak cinta Allah!
Rugi sebenarnya kalau kita tidak berserah diri ketika musibah datang pada kita.
Pertama, musibah tetap akan menimpa, kedua kita berdosa karena 'menolak' ketetapan Allah.
Mari kita sama-sama tafakuri hal ini.
Semoga dengan kesadaran - kesadaran yang kita miliki, kita akan semakin meyakini bahwa Allah tidaklah kejam karena memberi kita musibah namun sebaliknya tumbuh keyakinan bahwa musibah adalah cara Allah menyatakan cintaNya pada kita manusia.
Sehingga ketika musibah datang menghampiri, aku mampu tersenyum dan menerima... Karena Allah sedang menyatakan cintaNya padaku.. :)
Semoga bermanfaat
Jakarta, 21 Maret 2011
Ninik Wida
Kamis, 24 Maret 2011
KEBODOHAN UNIVERSAL
Innalillahi wa innaillaihi rojiuun......
waktu begitu cepat berlalu dan berganti.... berkurang sudah waktu yang saya miliki untuk mengabdi kepadaNya….
Dan besok jika Allah menghendaki, usia saya bertambah lagi, yang berarti jatah umur saya didunia ini terus berkurang dan semakin dekat waktu perjumpaan saya dengan Sang Pemilik Kehidupan.
Ada rasa yang berbeda saat menghadapi ulang tahun saya kali ini...
Rasa yang tidak sama seperti yang saya rasakan ditahun-tahun sebelumnya, sebelum saya mulai memahami arti hidup dan tujuan Allah menciptakan saya didunia ini.
Dulu saya gembira sekali ketika menyambut detik-detik bergantinya hari dan memasuki tanggal 8 maret! Karena pada hari itu saya ulang tahun! :)
Biasanya saya mempersiapkan suatu acara, mengundang teman-teman, meniup lilin, makan-makan dan saya mendapatkan ucapan selamat serta hadiah-hadiah indah dari mereka, waktu terus beranjak, sore bahkan malam, kemudian, selesai....
Tanpa sedikitpun bermaksud mengurangi rasa hormat, cinta dan terima kasih saya atas perhatian dan kasih sayang mereka, setelah acara selesai saya merasa tidak mendapatkan 'kesadaran' apa-apa yang meningkat dan membuat saya semakin taat pada Dzat yang menciptakan saya! Tentu kesalahan ini terletak pada diri saya!
Beberapa tahun terakhir setelah saya belajar dan mulai memahami tujuan hidup saya yang sebenarnya, rasa inilah yang saya rasakan sekarang...
Rasa dimana saya merasa 'khawatir dan sedih' setiap saya menghadapi ulang tahun saya.
Khawatir karena saya merasa rentang waktu yang berjalan masih belum membuat saya cukup memiliki banyak 'bekal' yang akan saya bawa ketika menghadap kepada Tuhan saya....
Tanpa sedikitpun bermaksud mengurangi rasa hormat, cinta dan terima kasih saya atas perhatian dan kasih sayang mereka, setelah acara selesai saya merasa tidak mendapatkan 'kesadaran' apa-apa yang meningkat dan membuat saya semakin taat pada Dzat yang menciptakan saya! Tentu kesalahan ini terletak pada diri saya!
Beberapa tahun terakhir setelah saya belajar dan mulai memahami tujuan hidup saya yang sebenarnya, rasa inilah yang saya rasakan sekarang...
Rasa dimana saya merasa 'khawatir dan sedih' setiap saya menghadapi ulang tahun saya.
Khawatir karena saya merasa rentang waktu yang berjalan masih belum membuat saya cukup memiliki banyak 'bekal' yang akan saya bawa ketika menghadap kepada Tuhan saya....
Sedih karena saya belum juga mampu membuat jiwa ini putih bersinar bahkan mengkilat karena terlalu banyak kelalaian dan pelanggaran yang saya lakukan terhadap Allah dan orang-orang disekeliling saya.
Apa yang bisa saya banggakan dihadapanNya?
Apa yang bisa saya banggakan dihadapanNya?
Suatu hari saya membaca sebuah buku : Sentuhan Kalbu yang ditulis oleh Ir Permadi Alibasyah, dimana salah satu tulisannya membuat saya tercenung dan tersadar hingga hari ini....
Dalam buku itu tertulis kalimat-kalimat seperti ini….
Dalam buku itu tertulis kalimat-kalimat seperti ini….
Ada sebuah ilustrasi yang menarik untuk kita renungkan bersama, karena jangan-jangan karena kesibukan kita, kita masuk dalam kelompok orang yang merugi, yaitu orang yang membuang-buang percuma sesuatu yang paling berharga yang dimilikinya.
Jika ada seorang pemuda mendapat warisan banyak dari orang tuanya, tetapi kemudian ia membelanjakannya tanpa perhitungan, bagaimana pandangan kita?
Pastilah kita akan menyayangkannya, dan menganggap pemuda itu sebagai orang yang bodoh.
Sekarang marilah kita perhatikan diri kita, jangan-jangan kita lupa kalau kita sendiri pun tanpa disadari, seringkali bersikap seperti yang dilakukan pemuda itu.
Jika ada seorang pemuda mendapat warisan banyak dari orang tuanya, tetapi kemudian ia membelanjakannya tanpa perhitungan, bagaimana pandangan kita?
Pastilah kita akan menyayangkannya, dan menganggap pemuda itu sebagai orang yang bodoh.
Sekarang marilah kita perhatikan diri kita, jangan-jangan kita lupa kalau kita sendiri pun tanpa disadari, seringkali bersikap seperti yang dilakukan pemuda itu.
Kita acapkali menghabiskan MODAL yang paling bernilai yang kita miliki, hanya untuk sesuatu yang sama sekali tidak berarti.
Apakah modal manusia yang paling bernilai? Tidak diragukan lagi, itulah USIA!
Seorang bijak mengutarakan keheranannya : " Aku heran terhadap orang yang menyambut dunia yang sedang pergi meninggalkannya, tetapi malahan berpaling dari akhirat yang sedang berjalan menuju kepadanya".
Kadang kita heran juga dengan sikap kita sendiri. Kenapa kita mudah menangis bila harta benda kita berkurang, sebaliknya tidak pernah menangis bila usia kita berkurang?
Bukankah tidak ada yang lebih bernilai bagi manusia selain usianya?
Ironisnya lagi,kehilangan usia ini malahan kita rayakan dengan sesemarak mungkin. Barangkali inilah satu-satunya KEBODOHAN manusia yang bersifat UNIVERSAL, yaitu merayakan dengan meriah kehilangan sesuatu yang sangat berarti bagi dirinya.
Padahal semua orang mengerti bahwa yang hilang ini benar-benar menguap dan tidak akan pernah menjadi milik kita lagi......
Apakah modal manusia yang paling bernilai? Tidak diragukan lagi, itulah USIA!
Seorang bijak mengutarakan keheranannya : " Aku heran terhadap orang yang menyambut dunia yang sedang pergi meninggalkannya, tetapi malahan berpaling dari akhirat yang sedang berjalan menuju kepadanya".
Kadang kita heran juga dengan sikap kita sendiri. Kenapa kita mudah menangis bila harta benda kita berkurang, sebaliknya tidak pernah menangis bila usia kita berkurang?
Bukankah tidak ada yang lebih bernilai bagi manusia selain usianya?
Ironisnya lagi,kehilangan usia ini malahan kita rayakan dengan sesemarak mungkin. Barangkali inilah satu-satunya KEBODOHAN manusia yang bersifat UNIVERSAL, yaitu merayakan dengan meriah kehilangan sesuatu yang sangat berarti bagi dirinya.
Padahal semua orang mengerti bahwa yang hilang ini benar-benar menguap dan tidak akan pernah menjadi milik kita lagi......
Tulisan dalam buku itu benar-benar membuat saya tersadar bahkan mengakui betapa bodohnya saya.
Ternyata saya sering kali salah memaknai momen berharga ini (dimana hakikatnya kematian saya semakin dekat), bukan kesadaran yang bertambah namun kesia-siaan yang saya lakukan.
Tentu tulisan saya ini tidak bermaksud untuk menyalahkan diri saya sendiri dan terus bersedih karena sudah melakukan kesalahan, justru tulisan ini adalah merupakan introspeksi bagi diri saya untuk selanjutnya saya bisa lebih bijak dalam menghadapi dan menyikapi momen ulang tahun ini.
Berkumpul dengan sahabat dan orang-orang yang kita cintai, meniup lilin atau makan-makan pada hari ulang tahun sebagai rasa syukur tentu saja boleh, namun tidak perlu berlebihan atau dirayakan dengan meriah, gunakan moment ini untuk suatu yang lebih penting bagi keselamatan diri kita di ‘alam berikutnya’, introspeksi, temukan kesalahan-kesalahan pada diri dan perbaikilah, tingkatkan kesadaran dan ketaatan kita kepadaNya. Sehingga waktu yang kita miliki bisa kita konversikan menjadi amal saleh alias pahala :)
Pernah juga seorang pengajar pelatihan ‘buka hati ‘ yang pernah saya ikuti mengatakan begini :
" Begitu seorang bayi manusia lahir, timer-nya otomatis disetel pada jatah maksimal usianya di dunia dan mulai berjalan mundur. Timer itu akan berdering setiap hitung mundur 365 hari menuju final ".....
So, should we celebrate the ‘ring’ ?
Jika hari ini kamu berulang tahun, saya ucapkan selamat! :)
Selamat mengisi waktu yang masih Allah berikan untuk meraih cinta dan SurgaNya, semoga semakin bertambah kesadaran untuk menambah 'bekal' yaitu amal shaleh....
O ya, jangan lupa meminta maaf pada orang tua kita, anak-anak dan suami/istri kita ( buat yang sudah menikah) pada momen spesial ini, jika sampai bertambahnya usia kali ini masih banyak kekurangan dan kesalahan yang kita lakukan selama kita mendampingi mereka.... akuilah dengan tulus semua itu, peluk mereka erat-erat.... dijamin! mereka pasti memaafkan dan medoakan kita! karena merekalah orang-orang yang paling dekat dan memahami kita... dan itu terbukti! Karena saya sudah melakukannya :)
Selamat merenung dan memahami momen ulang tahun ini :)
Semoga bermanfaat.
Ditulis pada tanggal 7 Maret 2011
Ninik Wida
Langganan:
Postingan (Atom)