Innalillahi wa innaillaihi rojiuun......
waktu begitu cepat berlalu dan berganti.... berkurang sudah waktu yang saya miliki untuk mengabdi kepadaNya….
Dan besok jika Allah menghendaki, usia saya bertambah lagi, yang berarti jatah umur saya didunia ini terus berkurang dan semakin dekat waktu perjumpaan saya dengan Sang Pemilik Kehidupan.
Ada rasa yang berbeda saat menghadapi ulang tahun saya kali ini...
Rasa yang tidak sama seperti yang saya rasakan ditahun-tahun sebelumnya, sebelum saya mulai memahami arti hidup dan tujuan Allah menciptakan saya didunia ini.
Dulu saya gembira sekali ketika menyambut detik-detik bergantinya hari dan memasuki tanggal 8 maret! Karena pada hari itu saya ulang tahun! :)
Biasanya saya mempersiapkan suatu acara, mengundang teman-teman, meniup lilin, makan-makan dan saya mendapatkan ucapan selamat serta hadiah-hadiah indah dari mereka, waktu terus beranjak, sore bahkan malam, kemudian, selesai....
Tanpa sedikitpun bermaksud mengurangi rasa hormat, cinta dan terima kasih saya atas perhatian dan kasih sayang mereka, setelah acara selesai saya merasa tidak mendapatkan 'kesadaran' apa-apa yang meningkat dan membuat saya semakin taat pada Dzat yang menciptakan saya! Tentu kesalahan ini terletak pada diri saya!
Beberapa tahun terakhir setelah saya belajar dan mulai memahami tujuan hidup saya yang sebenarnya, rasa inilah yang saya rasakan sekarang...
Rasa dimana saya merasa 'khawatir dan sedih' setiap saya menghadapi ulang tahun saya.
Khawatir karena saya merasa rentang waktu yang berjalan masih belum membuat saya cukup memiliki banyak 'bekal' yang akan saya bawa ketika menghadap kepada Tuhan saya....
Tanpa sedikitpun bermaksud mengurangi rasa hormat, cinta dan terima kasih saya atas perhatian dan kasih sayang mereka, setelah acara selesai saya merasa tidak mendapatkan 'kesadaran' apa-apa yang meningkat dan membuat saya semakin taat pada Dzat yang menciptakan saya! Tentu kesalahan ini terletak pada diri saya!
Beberapa tahun terakhir setelah saya belajar dan mulai memahami tujuan hidup saya yang sebenarnya, rasa inilah yang saya rasakan sekarang...
Rasa dimana saya merasa 'khawatir dan sedih' setiap saya menghadapi ulang tahun saya.
Khawatir karena saya merasa rentang waktu yang berjalan masih belum membuat saya cukup memiliki banyak 'bekal' yang akan saya bawa ketika menghadap kepada Tuhan saya....
Sedih karena saya belum juga mampu membuat jiwa ini putih bersinar bahkan mengkilat karena terlalu banyak kelalaian dan pelanggaran yang saya lakukan terhadap Allah dan orang-orang disekeliling saya.
Apa yang bisa saya banggakan dihadapanNya?
Apa yang bisa saya banggakan dihadapanNya?
Suatu hari saya membaca sebuah buku : Sentuhan Kalbu yang ditulis oleh Ir Permadi Alibasyah, dimana salah satu tulisannya membuat saya tercenung dan tersadar hingga hari ini....
Dalam buku itu tertulis kalimat-kalimat seperti ini….
Dalam buku itu tertulis kalimat-kalimat seperti ini….
Ada sebuah ilustrasi yang menarik untuk kita renungkan bersama, karena jangan-jangan karena kesibukan kita, kita masuk dalam kelompok orang yang merugi, yaitu orang yang membuang-buang percuma sesuatu yang paling berharga yang dimilikinya.
Jika ada seorang pemuda mendapat warisan banyak dari orang tuanya, tetapi kemudian ia membelanjakannya tanpa perhitungan, bagaimana pandangan kita?
Pastilah kita akan menyayangkannya, dan menganggap pemuda itu sebagai orang yang bodoh.
Sekarang marilah kita perhatikan diri kita, jangan-jangan kita lupa kalau kita sendiri pun tanpa disadari, seringkali bersikap seperti yang dilakukan pemuda itu.
Jika ada seorang pemuda mendapat warisan banyak dari orang tuanya, tetapi kemudian ia membelanjakannya tanpa perhitungan, bagaimana pandangan kita?
Pastilah kita akan menyayangkannya, dan menganggap pemuda itu sebagai orang yang bodoh.
Sekarang marilah kita perhatikan diri kita, jangan-jangan kita lupa kalau kita sendiri pun tanpa disadari, seringkali bersikap seperti yang dilakukan pemuda itu.
Kita acapkali menghabiskan MODAL yang paling bernilai yang kita miliki, hanya untuk sesuatu yang sama sekali tidak berarti.
Apakah modal manusia yang paling bernilai? Tidak diragukan lagi, itulah USIA!
Seorang bijak mengutarakan keheranannya : " Aku heran terhadap orang yang menyambut dunia yang sedang pergi meninggalkannya, tetapi malahan berpaling dari akhirat yang sedang berjalan menuju kepadanya".
Kadang kita heran juga dengan sikap kita sendiri. Kenapa kita mudah menangis bila harta benda kita berkurang, sebaliknya tidak pernah menangis bila usia kita berkurang?
Bukankah tidak ada yang lebih bernilai bagi manusia selain usianya?
Ironisnya lagi,kehilangan usia ini malahan kita rayakan dengan sesemarak mungkin. Barangkali inilah satu-satunya KEBODOHAN manusia yang bersifat UNIVERSAL, yaitu merayakan dengan meriah kehilangan sesuatu yang sangat berarti bagi dirinya.
Padahal semua orang mengerti bahwa yang hilang ini benar-benar menguap dan tidak akan pernah menjadi milik kita lagi......
Apakah modal manusia yang paling bernilai? Tidak diragukan lagi, itulah USIA!
Seorang bijak mengutarakan keheranannya : " Aku heran terhadap orang yang menyambut dunia yang sedang pergi meninggalkannya, tetapi malahan berpaling dari akhirat yang sedang berjalan menuju kepadanya".
Kadang kita heran juga dengan sikap kita sendiri. Kenapa kita mudah menangis bila harta benda kita berkurang, sebaliknya tidak pernah menangis bila usia kita berkurang?
Bukankah tidak ada yang lebih bernilai bagi manusia selain usianya?
Ironisnya lagi,kehilangan usia ini malahan kita rayakan dengan sesemarak mungkin. Barangkali inilah satu-satunya KEBODOHAN manusia yang bersifat UNIVERSAL, yaitu merayakan dengan meriah kehilangan sesuatu yang sangat berarti bagi dirinya.
Padahal semua orang mengerti bahwa yang hilang ini benar-benar menguap dan tidak akan pernah menjadi milik kita lagi......
Tulisan dalam buku itu benar-benar membuat saya tersadar bahkan mengakui betapa bodohnya saya.
Ternyata saya sering kali salah memaknai momen berharga ini (dimana hakikatnya kematian saya semakin dekat), bukan kesadaran yang bertambah namun kesia-siaan yang saya lakukan.
Tentu tulisan saya ini tidak bermaksud untuk menyalahkan diri saya sendiri dan terus bersedih karena sudah melakukan kesalahan, justru tulisan ini adalah merupakan introspeksi bagi diri saya untuk selanjutnya saya bisa lebih bijak dalam menghadapi dan menyikapi momen ulang tahun ini.
Berkumpul dengan sahabat dan orang-orang yang kita cintai, meniup lilin atau makan-makan pada hari ulang tahun sebagai rasa syukur tentu saja boleh, namun tidak perlu berlebihan atau dirayakan dengan meriah, gunakan moment ini untuk suatu yang lebih penting bagi keselamatan diri kita di ‘alam berikutnya’, introspeksi, temukan kesalahan-kesalahan pada diri dan perbaikilah, tingkatkan kesadaran dan ketaatan kita kepadaNya. Sehingga waktu yang kita miliki bisa kita konversikan menjadi amal saleh alias pahala :)
Pernah juga seorang pengajar pelatihan ‘buka hati ‘ yang pernah saya ikuti mengatakan begini :
" Begitu seorang bayi manusia lahir, timer-nya otomatis disetel pada jatah maksimal usianya di dunia dan mulai berjalan mundur. Timer itu akan berdering setiap hitung mundur 365 hari menuju final ".....
So, should we celebrate the ‘ring’ ?
Jika hari ini kamu berulang tahun, saya ucapkan selamat! :)
Selamat mengisi waktu yang masih Allah berikan untuk meraih cinta dan SurgaNya, semoga semakin bertambah kesadaran untuk menambah 'bekal' yaitu amal shaleh....
O ya, jangan lupa meminta maaf pada orang tua kita, anak-anak dan suami/istri kita ( buat yang sudah menikah) pada momen spesial ini, jika sampai bertambahnya usia kali ini masih banyak kekurangan dan kesalahan yang kita lakukan selama kita mendampingi mereka.... akuilah dengan tulus semua itu, peluk mereka erat-erat.... dijamin! mereka pasti memaafkan dan medoakan kita! karena merekalah orang-orang yang paling dekat dan memahami kita... dan itu terbukti! Karena saya sudah melakukannya :)
Selamat merenung dan memahami momen ulang tahun ini :)
Semoga bermanfaat.
Ditulis pada tanggal 7 Maret 2011
Ninik Wida
Tidak ada komentar:
Posting Komentar